GARUDA AIRLINE
Garuda Indonesia berawal dari tahun
1940-an, di mana Indonesia masih berperang melawan
Belanda. Pada saat itu, Garuda terbang jalur spesial dengan pesawat
DC-3.
Tanggal
26 Januari 1949 dianggap sebagai hari jadi maskapai penerbangan ini. Pada saat itu nama maskapai ini adalah
Indonesian Airways. Pesawat pertama mereka bernama
Seulawah atau
Gunung Emas, yang diambil dari nama gunung terkenal di Aceh. Dana untuk membeli pesawat ini didapatkan dari sumbangan rakyat
Aceh, pesawat tersebut dibeli seharga 120,000 dolar malaya yang sama dengan 20 kg emas. Maskapai ini tetap mendukung Indonesia sampai revolusi terhadap
Belanda berakhir. Garuda Indonesia mendapatkan konsesi monopoli penerbangan dari Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1950 dari
Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij (
KNILM), perusahaan penerbangan nasional Hindia Belanda. Garuda adalah hasil joint venture antara Pemerintah Indonesia dengan maskapai Belanda Koninklijke Luchtvaart Maatschappij (KLM). Pada awalnya, Pemerintah Indonesia memiliki 51% saham dan selama 10 tahun pertama, perusahaan ini dikelola oleh KLM. Karena paksaan nasionalis, KLM menjual sebagian dari sahamnya di tahun 1954 ke pemerintah Indonesia.
Pemerintah
Burma banyak menolong maskapai ini pada masa awal maskapai ini. Oleh karena itu, pada saat maskapai ini diresmikan sebagai perusahaan pada
31 Maret 1950, Garuda menyumbangkan Pemerintah Burma sebuah pesawat DC-3. Pada mulanya, Garuda memiliki 27 pesawat terbang, staf terdidik, bandara dan jadwal penerbangan, sebagai kelanjutan dari KNILM. Ini sangat berbeda dengan perusahaan-perusahaan pionir lainnya di Asia.
Pada tahun
1953, maskapai ini memiliki 46 pesawat, tetapi pada tahun
1955, pesawat Catalina mereka harus pensiun. Tahun
1956 mereka membuat jalur penerbangan pertama ke
Mekkah.
Tahun
1960-an adalah saat kemajuan pesat maskapai ini. Tahun 1965 Garuda mendapat dua pesawat baru yaitu pesawat jet
Convair 990 dan pesawat turboprop
Lockheed L-118 Electra. Pada tahun
1961 dibuka jalur menuju
Bandara Internasional Kai Tak di
Hong Kong dan tahun
1965 tibalah era
jet, dengan
DC-8 mereka membuat jalur penerbangan ke
Bandara Schiphol di
Haarlemmermeer,
Belanda,
Eropa.
Tahun
1970-an Garuda mengambil Jet kecil
DC-9 dan
Fokker F28 saat itu Garuda memiliki 36 pesawat F28 dan merupakan operator pesawat terbesar di dunia untuk jenis pesawat tersebut. Pada saat itu, maskapai ini mulai membeli pesawat badan lebar seperti
Boeing 747-200B dan
McDonnell Douglas DC-10-30. Sementara pada
1980-an mengadopsi perangkat dari
Airbus, seperti
A300. Tahun 1990an, maskapai ini membeli
Boeing 737,
Boeing 747-400,
Airbus A330-300, dan juga
McDonnell Douglas MD-11.
Dalam tahun
1990-an, Garuda mengalami beberapa
musibah, terutama pada tahun 1997, dimana sebuah A300
jatuh di Sibolangit, menewaskan seluruh penumpangnya. Maskapai ini pun mengalami periode ekonomi sulit, karena, pada tahun yang sama Indonesia terkena
Krisis Finansial Asia, yang terjadi tahun 1997. Setelah itu, Garuda sama sekali tidak terbang ke Eropa maupun Amerika (meskipun beberapa rute seperti
Frankfurt dan
Amsterdam sempat dibuka kembali, namun akhirnya kembali ditutup. Rute Amsterdam ditutup tahun 2004). Tetapi, dalam tahun
2000-an ini maskapai ini telah dapat mengatasi masalah-masalah di atas dan dalam keadaan ekonomi yang bagus.
Boeing 747-400 Garuda Indonesia di bandar udara Frankfurt di tahun 2000, saat Garuda masih terbang ke Jerman.
Memasuki tahun 2000an, maskapai ini membentuk anak perusahaan bernama
Citilink, yang menyediakan penerbangan biaya murah dari Surabaya ke kota-kota lain di Indonesia. Namun, Garuda masih saja bermasalah, selain menghadapi masalah keuangan (Pada awal hingga pertengahan 2000an, maskapai ini selalu mengalami kerugian), Beberapa peristiwa internasional (juga di Indonesia) juga memperburuk kinerja Garuda, seperti
Serangan 11 September 2001,
Bom Bali I dan
Bom Bali II, wabah
SARS, dan
Bencana Tsunami Aceh 26 Desember 2004. Selain itu, Garuda juga menghadapi masalah keselamatan penerbangan, terutama setelah
jatuhnya sebuah Boeing 737 di Yogyakarta ketika akan mendarat. Situasi ini diperburuk dengan sanksi Uni Eropa yang melarang semua pesawat maskapai Indonesia menerbangi rute Eropa. Namun, setelah perbaikan besar-besaran, tahun 2010 maskapai ini diperbolehkan kembali terbang ke Eropa, setelah misi inspeksi oleh tim pimpinan
Frederico Grandini[5].yaitu rute Jakarta - Amsterdam. Rute Eropa lain seperti
Paris,
London, dan
Frankfurt juga kemungkinan akan segera dibuka kembali.
Asal nama Garuda Indonesia
Pada tanggal 25 Desember 1949, wakil dari
KLM yang juga teman Presiden Soekarno, Dr. Konijnenburg, menghadap dan melapor kepada Presiden di
Yogyakarta bahwa
KLM Interinsulair Bedrijf akan diserahkan kepada pemerintah sesuai dengan hasil
Konferensi Meja Bundar (KMB) dan meminta kepada beliau memberi nama bagi perusahaan tersebut karena pesawat yang akan membawanya dari Yogyakarta ke Jakarta nanti akan dicat sesuai nama itu.
Menanggapi hal tersebut, Presiden Soekarno menjawab dengan mengutip satu baris dari sebuah sajak bahasa Belanda gubahan pujangga terkenal,
Raden Mas Noto Soeroto di zaman kolonial,
Ik ben Garuda, Vishnoe's vogel, die zijn vleugels uitslaat hoog boven uw eilanden ("Aku adalah Garuda, burung milik Wisnu yang membentangkan sayapnya menjulang tinggi diatas kepulauanmu")
Maka pada tanggal
28 Desember 1949, terjadi penerbangan yang bersejarah yaitu pesawat DC-3 dengan registrasi PK-DPD milik KLM Interinsulair terbang membawa Presiden Soekarno dari Yogyakarta ke Kemayoran - Jakarta untuk pelantikannya sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan logo baru, Garuda Indonesian Airways, nama yang diberikan Presiden Soekarno kepada perusahaan penerbangan pertama ini.
Nomor penerbangan
- GA 001 = Penerbangan kepresidenan (Penerbangan kepresidenan jarak jauh dilaksanakan dengan pesawat Airbus A330-300, sementara untuk jarak dekat digunakan Boeing 737-800. Pada era Soeharto, penerbangan kepresidenan dilaksanakan dengan pesawat McDonnell Douglas DC-10)
- GA 010-079 = Citilink
- GA 086-089 = Eropa
- GA 100-199 = Indonesia (Sumatera)
- GA 200-299 = Indonesia (Jawa Tengah dan Malang)
- GA 300-399 = Indonesia (Surabaya)
- GA 400-499 = Indonesia (Nusa Tenggara)
- GA 500-599 = Indonesia (Kalimantan)
- GA 600-699 = Indonesia (Sulawesi,Maluku,Papua)
- GA 700-799 = Australia
- GA 800-899 = Asia (Kecuali Indonesia dan Timur Tengah)
- GA 900-999 = Timur Tengah
Armada
Terhitung Maret 2011. Usia rata-rata armadanya adalah 8.1 tahun
[12][13]
[13]
| Garuda Indonesia Fleet |
|
| Aircraft | Berdinas | Pesanan | Passengers | Catatan | Livery | Mesin |
|
| F | C | Y | Total |
|
| | 6 | 8 (6 on order + 2 on op-lease) [12] | 0 | 36 | 186 | 222 | dilengkapi AVOD
1 lagi akan diserahkan 2011, 2 di 2012, 2 di 2013 and 3 di 2014 [12][13] | Baru | RR Trent 772B-60 |
|
| | 6 | 0 | 0 | 42 | | | | New | RR Trent 768 |
|
| | 9 | 0 | 0 | 16 | 94 | 110 | akan dipensiunkan 2014
1 akan dipensiunkan pada 2011, 1 di 2012, 1 di 2013 and 2 di 2014 [12] | Lama | CFM56-3C1 |
|
| | 17 | 0 | 0 | 14 | 120 | 134 | akan dipensiunkan pada 2013
8 akan pensiun di 2011 (setelah 2 pesawat dijual ke TNI AU), 1 di 2012 di 1 in 2013 [12] | Lama | CFM56-3C1 |
|
| 0 | 16 | 136 |
|
| | 5 | 0 | 0 | 12 | 84 | 96 |
| Baru | CFM56-3C1 |
|
| | 0 | | 0 | 12 | 144 | 156 | 7 lagi akan diserahkan 2011, 9 di 2012, 2 di 2013 and 6 di 2014 [13] | New
2 in retro liveries | CFM56-7B |
|
| 0 | 0 | 12 | 148 | 160 |
|
| | 10 | 12 | 150 | 162 |
|
| | 2 | 0 | 0 | 42 | 386 | 428 | 1 akan pensiun pada 2012,Dilengkapi AVOD di Executive Class [12] | | GE CF6-80C2B1F |
|
| 1 | Lama |
|
| | 0 | 10 | | | | | akan dilengkapi kabin First Class
3 akan diserahkan di 2013, 3 di 2014, 3 di 2015 and 1 di 2016 [12][13] | Baru | GE90-115B |
|
| Total | 91 | 42 | Last update: 28 April 2011 |
|
Garuda Indonesia
Merpati nusantara airline
Sejarah
Bermodal Rp10 juta dan enam pesawat, Merpati Nusantara Airlines memulai usahanya sebagai jembatan
udara yang menghubungkan tempat-tempat terpencil di
Kalimantan. Sejak berdiri, tanggal
6 September 1962, sampai sekarang, Merpati mengalami pasang surut.
"Jembatan Udara Nusantara". yang sarat misi ini memang seringkali dihimpit masalah.
Merpati
"lahir" berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No.19 tahun
1962 yang menetapkan pendirian perusahaan negara perhubungan udara daerah dan penerbangan serbaguna Merpati Nusantara, yang disebut juga PN Merpati Nusantara. Perusahaan milik negara ini memiliki lapangan usaha, meliputi penyelenggaraan perhubungan udara di daerah-daerah dan penerbangan serbaguna serta memajukan segala sesuatu yang berkaitan dengan angkutan udara dalam arti kata yang seluas-luasnya. Maksud dan tujuannya adalah dalam rangka turut membangun perekonomian nasional di sektor perhubungan udara dengan mengutamakan kepentingan rakyat.
Awalnya, Merpati memiliki armada jenis
de Havilland Otter/DHC-3 empat unit dan
Dakota DC-3 dua unit, yang merupakan pesawat hibah dari Angkatan Udara Republik Indonesia (
TNI AU). Ketika itu diketahui, modal awal perusahaan berupa uang rupiah lama sejumlah Rp10 juta. Para pilot dan teknisi dipasok dari AURI,
Garuda Indonesia (dulu Garuda Indonesia Airways), dan perusahaan penerbangan sipil lainnya.
Sebagai direktur utama, ditunjuk Komodor Udara
Henk Sutoyo Adiputro (
1962-
1966), yang membawahi hanya 17 personel. Beberapa bulan kemudian, tahun
1963, penerbangan Merpati pun tak hanya di Kalimantan, tapi juga menerbangi rute
Jakarta-
Semarang,
Jakarta-
Tanjung Karang, dan
Jakarta-
Balikpapan.
Tahun
1964, Merpati menerima penyerahan seluruh hak konsesi dan operasi, serta kepemilikan sejumlah pesawat bekas maskapai
Belanda NV de Kroonduif dari Garuda. Pengalihan ini dilakukan, dengan alasan Garuda sedang mengembangkan kegiatan untuk menjadi flag carrier nasional dan internasional. Pesawat hibah itu adalah tiga
Dakota DC-3, dua
Twin Otter dan satu Beaver. Dengan armada 12 pesawat, Merpati mulai tumbuh. Penerbangannya mulai merambah
Papua (
Irian Jaya),
Sumatera, dan
Nusa Tenggara Barat.
Seiring pertumbuhannya, Merpati memandang perlu untuk memperkuat armadanya dengan tambahan tiga
Dornier DO-28 dan enam
Pilatus Porter PC-6. Namun, beberapa pesawat sebelumnya ada yang tidak lagi dapat dioperasikan sehingga armada efektif Merpati 15 pesawat. Jumlah karyawan Merpati pun bertambah, menjadi 583 orang.
Bergabung dengan Garuda
Tahun 1978, keluar PP, yang memengaruhi riwayat Merpati, yaitu PP Nomor 30/1978, yang intinya mengharuskan Merpati mengalihkan modal ke
Garuda Indonesia. Merpati yang menjadi anak perusahaan Garuda, tetap menjalankan penerbangan perintis, lintas batas, transmigrasi, borongan wisatawan, dan angkutan barang, serta usaha-usaha lainnya. Pola operasi Merpati memang menyelenggarakan penerbangan pada semua jaraingan penerbangan dalam negeri, secara terpadu dan saling mengisi dengan Garuda.
Penerbangan perintis merupakan tantangan besar tapi mulia bagi Merpati. Namun dalam menjalankannya, Merpati mengikutsertakan sejumlah perusahaan penerbangan swasta. Seperti PT SMAC untuk melayani Sumatera Utara dan Tengah, sejak tahun
1978, dengan PT DAS untuk wilayah Kalimantan (sejak
1979), dengan PT Deraya di Kalimantan (sejak
1988), dengan PT Indoavia di Maluku (sejak
1988), dan dengan PT Asahi Mantrust di
Kalimantan Timur.
Pasca keluarnya PP itu, tahun 1979, Dirut Garuda
Wiweko Soepono pun menunjuk
R.A.J.Lumenta (1979-1983) sebagai direktur utama. Dengan menerapkan sistem manajemen yang ketat dan terarah, Lumenta membawa Merpati ke untuk melangkah lebih baik lagi. Dia juga meyakinkan pemerintah agar memberi dana segar sebesar 18 juta dollar AS, untuk memodernisasi armada.
Lumenta lah yang pertama kali menyuarakan bahwa Merpati tengah merugi, bahkan menuju kebangkrutan. Oleh karena itu, menjadi anak perusahaan Garuda dinilai sebagai langkah paling strategis, ketika itu. Lumenta, yang memang "orang Garuda", pun mengelola Merpati dengan gaya manajemen Garuda, terutama dalam rencana penerbangannya
Kemajuan mulai terlihat, ketika tahun
1980, Merpati memperoleh tambahan 14 NC-212 dari pemerintah. Kemudian, ditambah lagi dengan pembelian empat pesawat bekas dan enam pesawat baru dari jenis yang sama. Selain itu, hanggar-hanggar pemeliharaan pesawat pun dibangun di
Makassar dan
Manado. Adanya tempat-tempat perawatan pesawat tersebut, merupakan awal keberhasilan Merpati beroperasi di wilayah Timur.
Beberapa bulan di tahun 1983, Merpati dipimpin
J. Soekardjo. Karena masa jabatannya yang singkat itu, ia jarang disebut-sebut. Selanjutnya, pada
10 November 1983, ia digantikan
Soeratman (
1983-
1989).
Pada masa jabatan Soeratman, Merpati memperoleh hibah dua
Pesawat Hercules L-100 (versi sipil dari C-130) dari
Pelita Air Service, tahun
1986. Merpati juga membuka penerbangan
Kupang-
Darwin menggunakan
HS-748, yang kemudian diganti dengan
F-28.
Tanggal
25 Juni 1986, Merpati menandatangani kontrak pembelian 15
CN-235 dari
IPTN, pada saat
Indonesia Air Show (IAS) yang pertama di bekas
Bandara Kemayoran,
Jakarta. Penyerahan pertama pesawat yang awalnya merupakan hasil kerjasama CASA dan IPTN itu hanya berlangsung akhir tahun itu juga.
Pada Mei 1989, kembali ada penggatian pucuk pimpinan Merpati. Kali ini giliran Capt.
F. H. Sumolang (
1989-
1992) Langkah ini sebagai titik tolak realisasi integrasi penuh atau operasi terpadu Merpati ke dalam Garuda Indonesia Group. Merpati ditetapkan sebagai pendukung operasi penerbangan Garuda di tingkat domestik. Sejumlah armada Garuda pun dialihkan kepada Merpati, antara lain, enam F-28 Mk.3000, 22 F-28 Mk. 4000, dan sembilan DC-9.
Merpati kini
Tahun 2007, Merpati mulai melaksanakan program revitalisasi dan modernisasi armada secara parsial ,mengingat Merpati hingga saat ini masih bergelut dengan masalah keuangan
[3][4], terutama armada perintis, dengan memesan 14 pesawat
Xian MA60 dari Xian Aircraft China. Merpati juga sempat menyewa 1
ATR 72, namun kemudian dikembalikan karena dianggap tidak ekonomis (beberapa sumber menyatakan bahwa ATR hanya disewa sementara, menunggu tambahan MA60) . Merpati juga mengumumkan akan membeli 11 pesawat 30-kursi untuk rute domestik. (tipe belum dikonfirmasi), serta juga kemungkinan akan memesan pesawat
N-219 buatan
PTDI sekitar tahun 2011 ini.
Pada 7 Mei 2011 lalu, sebuah pesawat
Xian MA60 (
PK-MZK) jatuh di perairan Kaimana, menewaskan seluruh penumpangnya yang berjumlah 27 orang (21 penumpang dan 6 kru). Kecelakaan ini menambah panjang daftar kecelakaan yang melibatkan armada perintis Merpati. Kecelakaan terakhir yang dialami Merpati adalah pada tanggal 2 Agustus 2009, dimana sebuah Twin Otter
jatuh di pegunungan di
Papua, menewaskan seluruh 16 penumpangnya (13 penumpang dan 3 kru). Setelah kecelakaan di
Kaimana, banyak pihak mempertanyakan keputusan Merpati membeli pesawat Xian MA60 tersebut, serta dugaan
mark-up dan kolusi yang terjadi saat proses pembeliannya.
Armada
Armada Merpati Nusantara Airlines per 1 Januari 2011 terdiri dari:
- 1 Boeing 737-500 (PK-MDT)
- 2 Boeing 737-400 (PK-MDO,PK-MDZ) (Merpati akan menerima 6 Boeing 737-400 bekas Garuda)
- 1 Boeing 737-200
- 7 Boeing 737-300 (Merpati akan menerima 4 Boeing 737-300 bekas Indonesia AirAsia)
- 13 Xian MA60 (PK-MZA,PK-MZC,PK-MZD,PK-MZE,PK-MZF,PK-MZG,PK-MZH,PK-MZI,PK-MZJ,PK-MZL,PK-MZM,PK-MZO,PK-MZP) (2 pesawat baru mengalami kecelakaan {PK-MZJ} (PK-MZK),4 pesawat telah memakai livery baru)
- 2 Fokker-100 (PK-MJC,PK-MJD)
- 10 CASA C 212 (PK-NCH,PK-NCL,PK-NCN,PK-NCR,PK-NCS,PK-NCV,PK-NCW,PK-NCX,PK-NCY,PK-NCZ)(7 diantaranya telah pensiun, akan dipensiunkan total sekitar 2011)
- 8 DHC-6 (PK-NUH,PK-NUI,PK-NUO,PK-NUR,PK-NUS,PK-NUU,PK-NUZ,PK-NVA)(kemungkinan segera dipensiunkan dan akan digantikan oleh N-219 atau DHC-6)
- Merpati Nusantara [[Image
mandala
Sejarah singkat mandala airlines
Mandala adalah maskapai nasional berumur 40 tahun yang telah dibeli oleh
Indigo Partners dan
Cardig International di tahun 2006. Pembelian Mandala didasarkan pada pertimbangan bahwa potensi yang bisa diraih terkait dengan peluang pertumbuhan bisnis penerbangan di dunia ketiga, setelah
China dan
India. Dengan pasar domestik yang lebih besar dari India, investasi melalui Mandala, memberi peluang bagi Mandala untuk memanfaatkan jaringan rute penerbangan yang luas dengan
brand nasional yang kuat serta memungkinkan menjadikan Mandala sebagai maskapai penerbangan modern yang menawarkan keamanan, dapat diandalkan, dengan harga terjangkau.
Pada 2007, Mandala telah memesan 30
pesawat airbus baru senilai 2,3 miliar dolar AS, Mandala dikelola jajaran manajemen berpengalaman internasional. Mandala juga telah menghentikan penggunaan semua
Pesawat Boeingnya dan menjalin kerja sama dengan
Singapore Airlines Engineering Company untuk perawatan pesawat.
Mandala kini menawarkan jaringan pelayanan yang luas untuk 17 tujuan penerbangan, dengan menggunakan pesawat yang aman dan armada Airbus A320 dan A319 dengan ketepatan jadwal, kebersihan pesawat terjaga serta penawaran harga yang sangat terjangkau.
Prioritas utama Mandala adalah menjadi maskapai penerbangan dengan standar keselamatan penerbangan internasional. Untuk mencapai itu, Mandala telah menjalani audit guna mendapatkan sertifikasi
IOSA dari
IATA. Selain itu, Mandala juga telah menjalani audit dari Airbus, Boeing dan sejumlah perusahaan di bidang perminyakan yang telah memberikan persetujuan untuk terbang bersama Mandala. Karena masalah utang, maskapai ini berhenti beroperasi pada tanggal 12 Januari 2011 ini
[1]. Maskapai ini kemudian meminta penjadwalan ulang pembayaran utangnya ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat
[2].Utang Mandala saat itu sebesar 800 milyar rupiah kepada 271 kreditur, terutama kepada penyewa (
lessor) pesawat-pesawatnya.
[3] Akhir Februari 2011, para kreditur menyetujui untuk merestrukturisasi utang Mandala menjadi saham. 70.58 persen kreditur menyetujui merestrukurisasi utang maskapai ini sebesar 2.4 triliun rupiah.
Pada April 2011, tim kurator menyatakan bahwa Mandala akan menjalankan operasinya kembali pada bulan Mei 2011
[4]. Maskapai ini kemudian memastikan diri kembali beroperasi pada bulan Juni 2011.
[5]. Sebagai bagian restrukturisasinya, maskapai ini pun mengalami pergantian kepemilikan saham. Pemegang saham mayoritas adalah
PT Saratoga Investment Group sebesar 51%, diikuti oleh
Tiger Airways dari Singapura sebesar 33%, dan 16% sisanya dimiliki oleh pemegang saham lama dan para kreditor
[6].
Armada
Airbus A319-100 dengan warna baru Mandala
Mandala menerapkan one-single
aircraft policy (kebijakan pengoperasian satu jenis pesawat), yaitu hanya dengan mengoperasikan armada Airbus. Pada 16 Januari 2009, Mandala meng-ground seluruh armada Boeing nya dan mulai menerapkan kebijakan pengoperasian satu jenis pesawat tersebut. Saat ini, Mandala mengoperasikan jenis pesawat Airbus A320 dengan kapasitas kursi 180 dan pesawat A319 dengan kapasitas 144 kursi. Selain pesawatnya yang canggih, Mandala memilih Airbus karena
teknologinya yang ramah lingkungan dan efisien dalam penggunaan
bahan bakar.
Mantan Armada
Mandala Airlines

Slogan perusahaan The New Mandala Kantor pusat
33-37 Jalan Raya Tomang
Grogol Petamburan
Jakarta Barat
Orang penting
- Diono Nurjadin (President Direktur)
- Warwick Brady (CEO)
- Steve Wilks (COO)
- Michael Hamelink (CFO)
Sriwijaya Air
Sriwijaya Air adalah sebuah
maskapai penerbangan di
Indonesia. Sriwijaya Air didirikan dengan tujuan untuk menyatukan seluruh kawasan Nusantara seperti keinginan raja kerajaan Sriwijaya dahulu yang berasal dari kota
Palembang. Oleh keluarga Lie (Hendry, Chandra, Andi dan Fandi) keinginan tersebut diwujudkan melalui pengembangan transportasi udara. Pada mulanya Sriwijaya Air mengoperasikan 13 buah
Boeing 737-200. Sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pemenuhan pelayanan publik yang lebih baik, Sriwijaya Air menambah dan memperluas jangkauan penerbangannya dari Barat ke Timur dan menambah 10 pesawat dengan seri yang lebih baru
Boeing 737-400 dan 737-800NG serta 20 pesawat
Embraer 175 dan
Embraer 195. Pada tanggal 18 Desember 2008, Sriwijaya Air akan mengembangkan sayapnya dengan membuka rute internasional ke Singapura. Kode penerbangan Sriwijaya Air yang diberikan oleh IATA adalah
SJ dan
kode ICAO:
SJY, serta
tanda panggil (
callsign) "Sriwijaya".AircraftIn FleetOrdersPassengersRoutesNotes
Boeing 737-20090128Domestic routesKemungkinan akan dipensiunkan
Boeing 737-30090154Rute domestik dan internasional
Boeing 737-40060180Rute domestik dan internasional
Boeing 737-800[2]020189Rute domestik dan internasionalmulai dioperasikan 2012
Embraer 17501095Rute domestikdiserahkan 2012-2016
Embraer 195010105Rute domestikdiserahkan 2012-2016
Total2440
Last updated: 27 Februari 2011 Armada
Terhitung 27 Februari 2011.
[1]
| Aircraft | In Fleet | Orders | Passengers | Routes | Notes |
| | 9 | 0 | 128 | Domestic routes | Kemungkinan akan dipensiunkan |
| | 9 | 0 | 154 | Rute domestik dan internasional |
|
| | 6 | 0 | 180 | Rute domestik dan internasional |
|
| | 0 | 20 | 189 | Rute domestik dan internasional | mulai dioperasikan 2012 |
| | 0 | 10 | 95 | Rute domestik | diserahkan 2012-2016 |
| | 0 | 10 | 105 | Rute domestik | diserahkan 2012-2016 |
| Total | 24 | 40 |
|
| Last updated: 27 Februari 2011 |
LION AIR
Armada
Armada Lion Air per 7 Juni 2011 terdiri dari:
[2]**
Sejarah
Perjalanan panjang yang telah ditempuh
Lion Air berawal dari
penerbangan domestik yang kecil. Setelah 13 tahun pengalaman di bisnis wisata yang ditandai dengan kesuksesan biro perjalanan Lion Tours, kakak-beradik Kusnan dan Rusdi Kirana bertekad menjadikan impian mereka untuk memiliki usaha
penerbangan menjadi kenyataan. Dibekali ambisi yang tinggi dan modal awal 10 juta dolar Amerika Serikat, Lion Air secara hukum didirikan pada bulan Oktober tahun 1999. Namun pengoperasian baru berjalan di mulai pada tanggal 30 Juni tahun 2000, dengan menggunakan sebuah pesawat
Boeing 737-200. Saat ini, Rusdi Kirana sebagai salah satu pemilik Lion Air
[5] memegang jabatan sebagai Presiden dan juga Direktur.
Hingga pertengahan 2005, bersama dengan penerbangan internasional lainnya, Lion Air menempati Terminal 2F
Bandara Sukarno-Hatta; sedangkan perusahaan penerbangan lokal atau penerbangan domestik menempati Terminal Satu. Faktor tersebut, selain mampu memberikan para penumpang kemudahan penerbangan sambungan ke Indonesia atau dari Indonesia ke tujuan internasional lainnya, juga memberikan keuntungan lebih dari segi prestise. Tetapi kemudian Lion Air dipindahkan ke Terminal 1A dan penerbangan ke Pulau Sumatera,Batam,Pangkalpinang,dan Palangkaraya dioperasikan di terminal 1B (mulai 11 Oktober 2010)hingga saat ini.Sedangkan semua penerbangan internasional Lion Air dilayani dari terminal 2E.
Pada
2005, Lion Air memiliki 24 pesawat penerbangan yang terdiri dari 19 seri
McDonnell Douglas MD-82 dan 5 pesawat DHC-8-301. Untuk memenuhi layanan yang rendah biaya, Armada Lion Air didominasi oleh MD-80 karena efisiensi dan kenyamanannya. Dalam upaya meremajakan armadanya, Lion Air telah memesan 178
Boeing 737-900ER yang akan diantar bertahap dari 2007 hingga 2014. Lion Air berencana bersaing baik dengan Garuda Indonesia maupun
Saudi Arabian Airlines untuk menerbangi rute-rute umroh bahkan haji dengan pesawat
Boeing 747-400. 2 (dua) Pesawat
Boeing 747-400 sudah masuk dalam armadanya.
WINGS ABADI AIR
Data Kode
- Kode IATA: IW
- Kode ICAO: WON
- Panggilan: WINGS ABADI
Sejarah
Maskapai penerbangan ini diresmikan pada tahun
2003 dan memulai operasinya pada tanggal
13 Juni 2003. Sahamnya 100% dimiliki oleh
Lion Air. Maskapai ini mengoperasikan penerbangan domestik ke seluruh Indonesia dan 2(Dua) penerbangan internasional ke Malaysia.Dua rute yang sudah dioperasikan adalah rute Medan-Penang dan Pekan Baru-Malaka.
Armada
Armada pesawat Wings Air mencakup pesawat berikut ini (
September 2011)
[1] :
Pelita Air Service
Sejarah
Berdiri pada tahun 1970 dengan nama
Permina Air Service, semula Pelita Air difokuskan pada layanan penyewaan pesawat (
air charter). Selama beberapa dekade, Pelita Air melayani jasa penerbangan bagi beberapa perusahaan minyak di
Indonesia, baik perusahaan asing maupun domestik.
Semula PT. PAS berdiri di bawah naungan
Pertamina (
BUMN milik pemerintah), untuk memenuhi kebutuhan transportasi internal perusahaan, lalu dikembangkan menjadi maskapai yang menyediakan layanan penyewaan pesawat bagi perusahaan lain sejenis. Sepanjang 1970 - 1990, Pelita Air menjadi jasa layanan penyewaan pesawat bagi pelanggan tertentu saja.
PT PAS kemudian berdiri sendiri, melepaskan dari manajemen Pertamina. Kini Pelita Air berada di bawah manajemen PT. Pelita Air Service (PAS). Pada perkembangannya, di awal dekade 2000-an, Pelita Air mencoba melakukan layanan penerbangan umum domestik dengan nama
Pelita AirVenture, tetapi ditutup setelah 2 tahun.
Armada
Tidak seperti maskapai penerbangan lain yang mengandalkan pesawat
Boeing/
Airbus, Pelita Air menggunakan pesawat-pesawat
Fokker dan BAe (
British Aerospace). Maskapai ini memiliki beberapa pesawat Fokker 28, Fokker 100, RJ-85, dan beberapa helicopter jenis Bell-412,Bell-430,S-76, Super Puma,Puma dan BO-105 untuk layanan komuter. Hingga kini Pelita Air masih dicarter oleh Sekretariat Negara untuk mengurus aktivitas operasional pesawat kepresidenan RI, sebuah Avro RJ-85. 1 pesawat Dash-7 digunakan untuk keperluan penerbangan
PT Pupuk Kaltim.
Armada Pelita saat ini:
Helikopter/Rotary Wing
Untuk saat ini, Pelita Air masih melayani permintaan penyewaan pesawat dari para pelanggannya dahulu, termasuk
PT Pupuk Kaltim.
Kartika Airlines
Maskapai ini didirikan pada tahun 2001 dan mulai beroperasi pada
15 Mei 2001. Maskapai ini dimiliki oleh
PT. Truba. kemudian pada tahun 2005 diambil alih oleh
PT Intra Asia Corpora hingga sekarang. Pada April 2008, Departemen Perhubungan Republik Indonesia membekukan izin penerbangan Jatayu Airlines karena tidak memenuhi kelayakan jumlah armada (minimal dua buah pesawat).Sekarang,
Kartika Airlines beroperasi kembali dengan membuka rute-rute bagian Indonesia Timur
Data kode
- IATA Code: 3Y
- ICAO Code: KAE
- Callsign: KARTIKA
Armada
Pada bulan Desember 2010, armada Kartika Airlines terdiri dari:
Indonesia AirAsia
Sejarah
Indonesia AirAsia didirikan pada September
1999 dengan nama PT. AWAIR International. Mereka memulai penerbangan berjadwal ke beberapa kota di Indonesia pada tahun
2000, yang kemudian diikuti pembukaan penerbangan ke luar negeri (
Singapura). Persaingan yang ketat di sektor penerbangan di Indonesia membuat AWAIR menghentikan operasinya sekitar setahun kemudian.
Pada tahun
2004, AWAIR diambil alih AirAsia, dan mengalihkan orientasi pasarnya ke penerbangan berbiaya rendah. Penerbangan pertamanya dimulai pada Desember tahun itu. Mulai 1 Desember 2005, AWAIR berganti nama menjadi PT. Indonesia AirAsia.
Data kode
- Kode IATA: QZ
- Kode ICAO: AWQ
- Tanda panggil: Wagon Air
Armada
Armada Indonesia AirAsia per 10 February 2011 terdiri dari:
Malaysia Airlines
Sejarah
Setelah pemisahan
Malaysia-Singapore Airlines, sebagian besar aset MSA menjadi milik
Singapore Airlines termasuk rute-rute internasional yang berasal dari
Singapura. Pesawat
Boeing 737 dan
707 dimiliki Singapura dan aset
Malaysia Airline System hanyalah
Fokker F27, rute domestik, dan internasional yang berasal dari
Malaysia. MAS mulai beroperasi pada
1 Oktober 1972.
Pesawat berbadan lebar pertama MAS adalah
DC-10 pada
1976 dan
Boeing 747 pertama MAS datang pada
1982. Penggunaan nama Malaysia Airlines dimulai pada tahun
1987.
[sunting] Malaysia Airlines memecahkan rekor Perjalanan Terjauh Dunia Seattle-Kuala Lumpur
Malaysia Airlines memecahkan rekor Perjalanan terjauh Dunia dari
Seattle-
Kuala Lumpur dengan pesawat
Boeing 777-200 ER dengan jarak 20.044 km dalam waktu 21 Jam 23 Menit, pada
2 April 1997. Kemudian 42 Jam setelah lepas landas dari
Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur,
Malaysia Airlines Boeing 777-200 ER tiba di
Boeing Field,
Seattle,
Washington,
Amerika Serikat sehingga
Boeing 777 dianggap sebagai
Pesawat Penumpang Paling Terjauh, Teraman, Dan Berbadan Lebar Dunia.
Armada
Mantan Armada
Malaysia Airlines pernah mengoperasikan pesawat jenis:
Singapore Airlines
Sejarah
Awal Mula
Pembentukan Singapore Airlines bermula dari
Malayan Airways Ltd. dan penerbangan perdananya dilaksanakan
1 Mei 1947. Pada saat itu, kota yang dilayani adalah
Kuala Lumpur,
Ipoh, dan
Penang di
Malaysia. Maskapai tersebut berkembang setelah usainya
Perang Dunia II dan pada
1955, armadanya termasuk sejumlah besar pesawat
DC-3
Pemisahan
Pada
1963, terbentuk
Federasi Malaysia yang mengubah maskapai menjadi
Malaysian Airways. Pemisahan
Singapura dari Federasi terjadi pada
1965 dan pada
1966 Malaysian Airways mengubah namanya menjadi
Malaysia-Singapore Airlines.
Operasi MSA terhenti pada
1972 saat terjadi perselisihan pendapat antara kedua pihak.
Malaysia lebih menekankan penerbangan domestik sedangkan
Singapura memilih jalur internasional.
Walaupun terjadi pemisahan, para pramugari Singapore Airlines atau biasa disebut
Singapore Girls tetap menggunakan
baju kebaya.
Singapore Airlines
Perkembangan pesat terjadi di tahun
1970-an saat Singapore Airlines menghadirkan
Boeing 747 dalam armadanya. Pada
1980-an,
Amerika Serikat,
Kanada, dan
Eropa ditambahkan pada jaringan rute Singapore Airlines.
Tahun
2004, Singapore Airlines memulai perjalanan langsung dari
Singapura ke
Los Angeles dan
New York (
Bandara Internasional Newark Liberty. Maskapai ini juga sudah mempromosikan diri sebagai pengguna pertama pesawat Airbus
A380 yang digunakan pada akhir
2006 untuk penerbangan antara
Singapura,
London, dan
Sydney.
Armada
Armada
pesawat terbang Singapore Airlines terdiri dari empat tipe,
Boeing 747 dan
Boeing 777 dari
Boeing dan
Airbus A380 Airbus A340 dari
Airbus. Singapore Airlines juga akan menjadi pengguna pertama dari
A380 yang terakhir dijadwalkan akan mulai pelayanan pada
Desember 2006.
- 7 Airbus A 330-300 [12 dalam pemesanan]
- 5 Airbus A 340-500
- 6 Airbus A 380-800 [13 dalam pemesanan]
- 9 Boeing B 747-400
- 45 Boeing B 777-200ER
- 12 Boeing B 777-300
- 19 Boeing B 777-300ER
- Airbus A 350-900XWB [20 dalam pemesanan]
- Boeing B 787-800 [20 dalam pemesanan]
Total : 103 Dalam Pemesanan : 65
AirAsia
Data Kode
- Kode IATA: AK
- Kode ICAO: AXM
- Kode panggil : Air Asia
- Kode panggil (Indonesia Air Asia): QZ
- Kode panggil (Thai Air Asia): FD
- Kode panggil (Air Asia X): D7
Sejarah
Awalnya AirAsia dimiliki oleh
DRB-HICOM milik
Pemerintah Malaysia namun maskapai ini memiliki beban yang berat dan akhirnya dibeli oleh mantan eksekutif
Time Warner,
Tony Fernandes, dengan harga
simbolik 1
Ringgit pada
2 Desember 2001. Tony melakukan
turnaround dan AirAsia berhasil membukukan laba pada
2002 dengan berbagai rute baru dan harga promosi serendah 10 RM bersaing dengan
Malaysia Airlines.
Pada
2003, dibukalah pangkalan kedua di
Bandara Senai,
Johor Bahru dekat
Singapura dan AirAsia melakukan penerbangan internasionalnya ke
Thailand. Sejak itu, dibukalah
Thai AirAsia dan dilakukanlah berbagai penambahan rute seperti ke
Singapura dan
Indonesia. Penerbangan ke
Makau dimulai pada
Juni 2004 sedangkan penerbangan ke
Manila dan
Xiamen dimulai pada
April 2005. Rute lain yang akan dibuka adalah ke
Vietnam,
Kamboja,
Filipina, dan
Laos.
Selain Thai AirAsia, di
Indonesia juga terdapat perusahaan AirAsia yaitu
Indonesia AirAsia (sebelumnya bernama AWAIR) yang terbang dari
Jakarta ke
Yogyakarta,
Denpasar untuk tujuan lokal, dan dari Surabaya ke Medan untuk rute domestik lainnya, selain itu penerbangan dilakukan keluar Indonesia melalui kota-kota besar seperti Medan, Padang, Pekanbaru, Palembang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Solo, Balikpapan dan Makassar
Armada